Karimunjawa, tentu kata yang
tidak asing lagi di telinga kita. Kita barangkali sudah sering mendengarnya dan
yang tergambar dalam benak kita ketika mendengar nama kepulauan itu disebut
adalah gugusan pulau nan indah disertai panoramam pantai berpasir nan menawan dan juga pemandangan bawah laut yang memesona. Beda
ketika saya pertama kali mendengarnya di kisaran tahun 2000 silam. Saya tidak
punya bayangan apa-apa tentang Karimunajwa, mendengarnya pun juga jarang. Saat
itu, saya masih berstatus sebagai mahasiswa di UNS. Ada salah satu teman yang
asalnya dari Jepara dan bercerita tentang pesona Karimunjawa. Saya masih awam
tentang Karimunjawa. Namun, mendengar cerita dari teman tadi, saya seketika
begitu tertarik untuk berkunjung ke sana. Kelihatannya begitu indah dan saya
berpikir, saya harus ke sana. Hingga, terwujudlah keinginan saya mengunjungi
Karimunjawa. Kali ini, saya ingin menuliskan perjalanan saya ketika untuk kali
kedua ke Karimunjawa di bulan Mei 2016 lalu.
Ini adalah ruang untuk berpikir, berkontemplasi, atau sekadar menyimpan resah agar tidak sebatas berserak di benak. Catatan perjalanan, opini, esai, atau karya fiksi yang saya tulis, saya tampilkan di ruang ini. Saya adalah seorang penyuka jalan-jalan, dunia kepenulisan, juga suka dengan persahabatan. Semoga menjadi catatan kebaikan. Selamat Membaca.
Kamis, 22 Juni 2017
Rabu, 21 Juni 2017
Hasil Tidak Khianati Proses
Cerita Seminar Proposal
![]() |
Pagi itu hati
saya berdebar, tidak seperti hari biasanya.
Hari itu,
Selasa, 30 Mei 2017, adalah jadwal saya untuk seminar proposal Disertasi. Satu
sisi saya lega dan bersyukur, akhirnya disetujui juga untuk seminar proposal,
tetapi di sisi yang lain, perasaan kurang percaya diri muncul juga. Entah,
meski presentasi di hadapan penguji atau hadapan publik tentu bukanlah kali
pertama, tetapi menurut saya hari itu berbeda. Ada rasa was-was melintas. Nanti
bagaimana kalau ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, nanti kalau ide
proposalnya salah fatal dan harus diganti bagaimana, nanti kalau tidak lulus
bagaimana, nanti kalau ada salah teknis terkait LCD gimana, nanti kalau tidak
ada teman yang datang apa seminar tetap bisa diadakan, dan kecemasan-kecemasan
lain. Saya lalu menepisnya dengan banyak istigfar. Ada Allah... Bismillah.
Selasa, 20 Juni 2017
Pandan Carita, Padang Sidempuan, dan Cerita Itu...
Membayangkan perjalanan penjang dan melelahkan sempat membuat saya ragu untuk menerima tawaran tugas dari kampus kali ini. Namun, naluri saya yang suka bertualang akhirnya memantapkan hati untuk menerimanya:tugas ke Padang Sidempuan, Sumatra Utara.
Kesetiaan yang Terusik dan Teruji
Susuri Sungai Kahayan
Kehangatan Saat di Lombok
![]() |
| Royyan, Raudina, dan Rasydan di depan villa |
Ide untuk ke Lombok waktu itu sederhana, saya ingin membahagiakan keluarga, mengajak mereka jalan-jalan dan menginap di hotel. Itu saja. Pasalnya, selama ini saya lebih banyak jalan-jalan sendiri sebab memang dalam rangka tugas. Jadi, tidak bisa mengajak keluarga. Nah, setelah diskusi sana-sini, kami sekeluarga sepakat memilih Lombok sebagai destinasinya. Hal tersebut didukung saat saya 'menemukan' paket promo di salah satu hotel mewah di daerah Senggigi, Lombok, NTB. Promo yang menurut saya 'terjangkau'. Kalau tidak salah 1,5 juta untuk dua malam menginap satu keluarga, sudah dapat dua kali makan pagi dan satu kali dinner special.Selain itu, dapat fasilitas antar jemput ke bandara.
Senin, 19 Juni 2017
Ada yang Tertinggal di Labuhan Bajo
Pertama kali saat mendengar kabar saya mendapat tugas ke daerah Labuhan Bajo, sungguh senang. Memang Labuhan Bajo dan Pulau Komodo salah satu destinasi wisata yang ingin saya kunjungi. Kita tahu lah, keindahan alam, berbagai pesona, dan keunikan yang ada di sana tentu sudah tidak diragukan lagi. Kali ini saya ingin mengurai kisah perjalanan saya ke Labuhan Bajo beberapa waktu lalu itu.
Sosok Misterius Itu...
Malam itu sekitar pukul sepuluh malam waktu Mekkah. Saya masih betah berada di Masjidil Haram, sendirian (tidak dengan rombongan teman dari Indonesia). Ada laki-laki muda berjalan menyusuri koridor masjid. Ternyata, lelaki itu duduk di depan saya agak ke kanan. Setelah tengok kanan kiri, lelaki itu tersenyum pada saya. Saya sempat kaget. Bukan kenapa-napa, saya merasa pernah melihat sosoknya. Wajahnya sekilas mirip aktor dari Hollywood yang pernah saya lihat di Tv, tapi entah siapa, atau lupa namanya, hehe. Yang jelas, bukan wajah Arab atau Asia (Indonesia atau Malaysia) seperti wajah para jamaah yang mendominasi di masjid tersebut. Wajahnya Amerika atau Eropa gitu. Dia membuka Al Qur'an dan membacanya, seperti yang dilakukan oleh para jamaah lain. Cukup lama. Dalam hati saya sempat bertanya-tanya, apa benar lelaki ini artis, kalau iya hebat sekali dia begitu betah membaca Al Qur'an.
Selami Pesona Bunaken
Taman Nasional Laut Bunaken begitu tenar dan membuat orang-orang ingin mengunjunginya. Termasuk saya. Tidak begitu saya rencanakan perjalanan ke Manado sebenarnya. Namun begitulah, lagi-lagi, kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang indah di Indonesia, termasuk Manado, kembali datang pada saya. Acara utama bukan jalan-jalan. Jalan-jalan 'hanya' side effect menurut saya. Dalam arti, jika mengunjungi suatu tempat dengan tujuan utama bukan jalan-jalan, tentulah selama perjalanan itu ada cerita tentang jalan-jalan itu sendiri.
Kerja Keras untuk Traveling, dan Bukan untuk Membeli Kavling
Kata-kata
yang saya gunakan sebagai judul di catatan kali ini bukan lahir dari
benak saya, melainkan dari salah seorang senior saya di Fakultas Sastra
UM yang kebetulan ditugaskan bersama saya ke NTT.
Kebanyakan, orang Indonesia bekerja keras membanting tulang adalah untuk ditabung, mengumpulkan harta, dan bisa dikatakan cukup sayang jika digunakan untuk sekadar jalan-jalan. Namun, orang Luar Negeri tidak demikian. Mereka bekerja keras kemudian ditabung untuk jalan-jalan, traveling. Daripada untuk traveling, orang Indonesia sebagian besar memilih untuk membeli kavling. (hehe)
Kebanyakan, orang Indonesia bekerja keras membanting tulang adalah untuk ditabung, mengumpulkan harta, dan bisa dikatakan cukup sayang jika digunakan untuk sekadar jalan-jalan. Namun, orang Luar Negeri tidak demikian. Mereka bekerja keras kemudian ditabung untuk jalan-jalan, traveling. Daripada untuk traveling, orang Indonesia sebagian besar memilih untuk membeli kavling. (hehe)
WAKATOBI: Akhirnya Kau Kudatangi
Sebelumnya, rima tentang keindahan Wakatobi sebatas saya dengar atau saya lihat melaui televisi atau internet. Sepertinya, tipis kemungkinan bagi saya untuk mengunjungi tempat itu. Ya, setidaknya melihat kondisi keuangan saya. Sebab, yang saya tahu, Wakatobi itu jauh, di Sulawesi Tenggara. Meskipun saya penyuka jalan-jalan, tetap harus memperhitungan banyak hal sebelum bepergian, termasuk keuangan, hehe.
Namun, Impossible is Nothing.
Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Alhamdulillah, begitu bahagia saat saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sana. Bergembiranya lagi, saya bisa ke Wakatobi dengan gratis. Iya, lagi-lagi ini bentuk apresiasi atau 'hadiah' karena abstrak saya lolos untuk dipresentasikan di sebuah seminar internasional. Ini kesempatan kedua, setelah sebelumnya saya pernah ke Pulau Bintan juga dengan tujuan yang sama dan fasilitas yang sama. Padahal, saya sebelumnya tidak begitu berharap sebab kali ini saingannya sangat banyak. menurut info dari salah satu panitia, ada 400 abstrak yang masuk dan hanya diambil 25 abstrak. Alhamdulillah ya Allah. Saya juga wajib berterima kasih pada salah satu mahasiswa cerdas saya, Choirun Nisa Ristanty yang sudah membantu untuk edit bahasa Inggrisnya, hehe. Makasih ya Tan, Allah yang membalasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Unggulan
The Short Story in The 21st Century
TJERITA AND NOVEL LITERARY DISCOURSE IN POST NEW ORDER INDONESIA By Stefan Danerek Centre for Languages and Literature Lund Unive...
-
Abstrak Langendriyan adalah kesenian Jawa yang berbentuk dramatari. Apabila Langendriyan dibandingkan dengan wayang orang yang juga satu ...
-
Membayangkan perjalanan penjang dan melelahkan sempat membuat saya ragu untuk menerima tawaran tugas dari kampus kali ini. Namun, naluri ...










